Wednesday, August 09, 2006

cerpen - SEKARDUS MAKAN SIANG

Malam semakin larut, aku masih sibuk di depan komputer. Dingin memang kurasakan menyergap badan dan kurasakan pula menusuk tulang. Tapi apa mau dikata, tulisan yang harus kupresentasikan besok pagi belum terselesaikan. Waktu menuju jam 8 pagi memendek, dan itu mengharuskan aku untuk terus memainkan jari-jari ku di atas keyboard. Merasa terbebani juga, karena besok teman-teman di kampus sudah tentu menunggu ide-ide ku. Bukan sekedar ide kacangan, bukan sekedar bayangan tak bertarget, teman-teman mengharapkan ide cerdas, cemerlang, rasional, dan tentunya murah. Yang memang terlanjur kujanjikan disampaikan besok saat rapat Streering Committee untuk acara seminar 2 bulan lagi. Sudah jam 12 malam, baru bisa kurampungkan 5 halaman dari kira-kira 20 halaman yang harus diketik. Kuteruskan tarian jariku, kantuk sudah tak mampu lagi mengganggu semangat untuk menghadirkan seminar yang sudah kumimpikan dari dulu. Dulu, mulai dari dua tahun yang lalu, saat aku masih angkatan baru di kampus, saat aku hanya jadi tukang parkir di seminar yang kusaksikan sendiri memang sukses.
* *
“Bagaimana? Ada pertanyaan?”, aku mencoba membuka diskusi setelah kuselesaikan presentasiku di depan teman-teman pengurus organisasi. Banyak hal yang berkembang. Rancangan seminar buatanku mendapat banyak masukan. Bangga juga, aku punya ide dan pikiran yang bisa dijadikan pertimbangan orang banyak. Dua jam kulalui. Diskusi yang menyenangkan, tukar pikiran sehat yang sesekali diselingi canda dan senyum. Diskusi yang juga fokus, karena juga kulihat teman-teman kadang terdiam karena memikirkan ide yang bisa diangkat. Menyenangkan. Bisa menjadi bagian dari keluarga kedua. Keluarga yang kujadikan tempat mencari kasih sayang karena harus jauh dengan bapak ibu yang ada di kampung. Dan sekarang aku tidak sekedar hadir, pun sekedar menonton, aku sekarang bisa mencurahkan pikiran dan ideku. Semuanya, secara bebas, tanpa ketakutan untuk sekedar ngomong dan berpendapat seperti dua tahun yang lalu. Dulu, saat aku masih anak lulusan sma yang baru masuk kuliah, anak ingusan yang dianggap tak punya cukup ide untuk disampaikan dan didiskusikan bersama kakak angkatan atas. Sudah dua tahun ternyata, kini kurasakan aku punya tanggung jawab yang lebih berat dari dulu yang hanya jadi tukang parkir. Kusadari, aku sudah masuk dalam sebuah keluarga yang menyenangkan. Aku sedikit larut dalam kenangan.
Waktu berlalu. Jam setengah satu, kulihat Lisna masuk membawa satu kresek hitam besar ke ruang rapat. Makanan sudah datang. Aku dapat sekardus makan siang.

1 comment:

Anonymous said...

senyum rid,,teutetup semangadh!! skali-skali mutung gapapa, tapi jangan lama-lama. semnas jadinya pasti keren lah kalo farid yang pegang!